Saat kebebasan beragama di Indonesia dipertanyakan.

Agama adalah sesuatu yang bersifat pribadi dan tidak dapat diganggu gugat. Bahkan, negara pun juga menyisipkan undang-undang kebebasan untuk memeluk agama. Tapi, seberapa “bebaskah” setiap orang bisa memeluk agama?

Kita flashback pada saat-saat krisis kebebasan beragama di Indonesia benar-benar dipertanyakan, bukan bermaksud untuk mengungkit-ungkit tapi apakah sebuah fakta harus tetap dianggap tabu walaupun jelas-jelas terlihat di depan mata? Pantaskah negara yang mengembar-gemborkan “Bhineka Tunggal Ika” melindungi sebuah front pembela yang hanya membawa dampak negatif dalam kebebasan manusia untuk memeluk agama?

Peristiwa penusukan pendeta, pembokaran gereja secara paksa, dan tidak mengizinkan pelaksanaan ibadah bukanlah hal sepele yang harus kita pandang sebelah mata, lagi. Ini soal kebebasan memeluk agama, soal manusia berusaha untuk menjalin hubungan baik dengan Tuhan, soal hak asasi yang telah diatur dalam undang-undang, dan oknum yang mengatasnamakan Islam itu dengan semena-mena melanggar, merusak, bahkan melarang mereka yang ingin menjalin hubungan dengan Tuhan.

Jujur, walaupun saya buta teologi, walaupun pengetahuan saya minim soal agama, tapi saya tahu bahwa setiap agama memiliki konsep dan mengajarkan umatnya untuk saling mengasihi. Saya tinggal dilingkungan yang mayoritasnya memeluk agama Islam dan menurut anggapan saya, ISLAM CINTA PERDAMAIAN. Saya juga yakin 1000000 % bahwa nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan kekerasan seperti front pembela tersebut. Intinya, mari sebut merk, Front Pembela Islam bukanlah Islam. Mereka hanya oknum yang “mengaku” Islam, Islam mereka hanya di mulut tanpa bisa merealisasikan Islam yang sebenarnya dalam perbuatan mereka. Sangat disayangkan bukan, agama yang memiliki pemeluk terbesar di Indonesia dilecehkan sedemikian rupa oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab?

Dari FPI, mari kita beralih ke anak-anak Indonesia yang memeluk agama karena turunan atau (mungkin) paksaan orangtua mereka. Ada berapa anak Indonesia yang memeluk agama tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka percayai? Ada berapa anak Indonesia yang tidak mengenal Tuhannya walaupun secara pengakuan dia telah memeluk agama tersebut? Saat orangtua melakukan paksaan pada anaknya untuk memeluk agama tanpa memberi kebebasan anaknya untuk berpendapat, disini kebebasan suatu individu untuk memeluk agama masih dipertanyakan. Padahal agama adalah salah satu wadah sebagai pembaik hidup kita, karena baik makanya kita harus benar-benar mengenal kepercayaan yang telah kita imani. Haruskah orangtua ikut campur dalam agama anaknya? Harus, tapi tugas orangtua adalah MELURUSKAN bukan MEMAKSA🙂

Percuma jika Obhama mengagumi Indonesia karena keberagamannya tapi kita sebagai bangsa tidak dapat menunjukan bahwa Indonesia benar-benar mencintai keberagaman. Kebebasan beragama tentu dimiliki oleh setiap individu yang dijamin hak asasinya, jadi pantaskah individu yang lain menghalangi? TENTU TIDAK !

with love🙂

Dwitasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s