Cinta. Agamamu. Agamaku

“Apakah seseorang yang kaucintai harus memeluk agama yang sama denganmu?”

Aku duduk terdiam di depan tempat ibadah itu. Tempat ibadah yang mungkin tidak akan pernah kumasuki seumur hidupku. Tempat ibadah yang selamanya tak akan kubiarkan kakiku menginjak dan merasakan lantai dingin yang mungkin sedikit memberi kesejukan itu, masjid. Aku menunggunya dengan sabar, menunggu kekasihku selesai beribadah. Terlintas pikiran nakal kala itu, “Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang yang tempat ibadahnya tak sama denganku?” Tiga menit kemudian, beberapa orang telah meninggalkan tempat ibadah itu. Aku menyibukan kepalaku dengan menggerak-gerakannya, celingak-celinguk kanan kiri mencari sosoknya. Lalu, beberapa detik kemudian seorang pria berlari-lari kecil ke arahku, kekasihku, Idlan.

“Sayang, nunggunya lama ya?” Dengan nafas terengah-engah Idlan menyapaku.

“Enggak kok, tenang aja. Dimuka kamu masih ada air wudhu tuh, aku ada tissue, mau dilap dulu enggak?” Ungkapku sambil memeriksa isi tasku.

“Boleh deh.” Jawabnya singkat sambil memerhatikan wajahku dengan seksama, aku terheran.

“Kenapa ngeliatin aku terus sih?” Tanyaku sinis memelototi matanya.

“Kamu cantik, kenapa enggak pake jilbab aja?” Gurau Idlan dengan tawa khasnya.

“Emangnya kalau aku pakai jilbab malah tambah cantik ya?” Tanyaku balik sambil mengacak-acak rambutnya.

“For sure, yes!”

“Cantik itu dari hati kok, bukan dari jilbab.” Ujarku pelan sembari menarik tangannya agar melanjutkan perjalanan kita dengan berjalan kaki.

“Iya, Sayang. Tapi…”

“Lagian juga, yang harus dijilbabkan bukan cuma fisik, tapi juga hati.” Timpalku memotong pernyataannya.

“Kok jadi dibawa serius sih?” Idlan menahan langkahnya, menarik tanganku agar memberhentikan langkahku.

“Siapa yang bawa serius? Aku cuma enggak suka aja, kalau kamu enggak bisa terima aku yang enggak pakai jilbab ini yasudah. Kalau kamu enggak bisa terima agamaku, maka kamu enggak bisa mencintai aku kan?” Pembicaraan menjadi panas, aku berjalan meninggalkannya. Seperti biasa, dia tak pernah mengejarku, dia tak pernah menahanku untuk tetap tinggal.

***

Ibu menunggu di depan rumah. Wajahnya temaram kelam layaknya menunggu seseorang. Aku menghampiri beliau dengan langkah terburu-buru.

“Mama, kok di luar?” Aku menghampiri mama sambil mengajak beliau memasuki rumah.

“Pulang sama siapa?” Tanya mamaku singkat.

“Sama, Idlan, Ma.” Jawabku, juga dengan pernyataan yang singkat.

“Kamu masih sama dia, Nak?”

“Iya, Ma.”

“Enggak inget nasehat, Mama?”

“Inget, Ma.”

“Yang pertama?”

“Gelap tak mungkin bersatu dengan terang.”

“Yang kedua?”

Aku terdiam sejenak, menatap ibuku yang memegang bahuku. Dengan paksa aku melepaskan tangannya, sambil bangkit berdiri aku berkata, “Semua agama itu sama, Ma. Hanya cara menyembahNYA saja yang berbeda!” Bentakku ketus. Mama terdiam.

Dengan kesal aku membanting penting kamar. Aku benci dijejeri pertanyaan sampah seperti itu. Apa salahnya jika aku menjalin hubungan lebih dari teman dengan seseorang yang tidak seagama denganku? Inilah Indonesia, perbedaan harus dianggap sebagai sesuatu yang tak akan pernah bisa disatukan.

***

Seusai ibadah, aku iseng melihat ke celah-celah pintu gereja, ada seorang pria yang sepertinya tengah menunggu seseorang, ia duduk di atas sepeda motornya. Setiap beberapa detik ia selalu melihat ke arah gereja, seakan-akan matanya menyusuri setiap celah-celah kecil gereja itu. Aku seperti mengenal raut wajah pria itu, “Seperti Idlan.” Ucapku dalam hati, lirih.

Sekitar pukul 14:00 siang, dengan langkah santai aku meninggalkan tempat ibadahku, gereja. Ternyata benar dugaanku, pria yang sejak tadi bertengger di depan gereja adalah Idlan. Aku mempercepat langkahku, tapi Idlan tetap menghampiriku.

“Zuriel, maaf ya kemarin.” Dengan wajah tersipu malu, Idlan menghampiriku.

“Aku selalu memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf.” Aku menghentikan langkahku, menatap matanya dan tersenyum sendu saat melihat wajahnya. “Tapi, hubungan kita cukup sampai disini.”

Seakan-akan ribuan pedang menghujam Idlan, matanya berair, dia menatapku dengan serius, “Kamu beneran?”

“Ya.” Jawabku singkat, sambil mengarahkan pandanganku ke arah lain. Matanya berair, aku tak pernah suka pemandangan itu. Cowok kok sukanya nangis?

“Sesingkat ini?”

“Sesingkat? Hubungan kita sudah satu tahun! Dan, mau tahu hal yang selalu kutahan? Kamu selalu memperlakukanku seperti temanmu bukan kekasihmu. Kamu tidak pernah berusaha menjaga perasaanku. Kamu tak pernah berusaha mentolerir agamaku, maka kamu tidak akan pernah menerima cintaku.” Jelasku panjang lebar, membiarkan hatinya teriris.

“Maaf, Riel.”

with love🙂

Dwitasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s